Antologi Puisi

MERAIH TERANG KARENA GELAP

 

sayup-sayup redup

cintaku berkalang kabut

beraroma lelembut

menjamah keghaiban absurd

melucuti rasa dan terurai lara

tawa tangis ceria hingga membekukan jiwa

 

melaju menghisap makna

memicu gelombang cahaya

hingga membatu tertambat

menerawang kegelapan

 

RISALAH NYATA

 

di sebuah panggung mentari menggulung hari

 

aku membujur sebentang masa

sebuah hasrat terperanjat dari mata yang memanjat

sungguh penuh citra, hujan deras arti

tergesek lembek antardimensi

ruh bertemu ruh, bertemu mentari

 

menerjang, menyeruak

untuk menang, untuk detak

 

melirik masa, bersaksi nyata

bersatu

ruh bertemu ruh, bertemu mentari

 

waktu terus meniti ruang terus membentang

terganjal mencoba untuk keluar

 

berbisik dengan hati berkoar menuju sejati

berusaha untuk abadi

 

tersentak sebuah rangsang

terbentak sebuah bayang

 

terpuruk

dan sedang mencoba

merujuk

kemenangan laga

 

restu terpinta, hati berdoa, kami tak berdaya

 

KALA

 

wanitabukamar

barasayang

cintabirahitampaksaha

enakalagilatubuh

rusaksimbolgusar

nikmatiduri

 

PERANG BERANG

 

ada paku baku menancap

kamar samar di relung hati

dipayungi awan angan-angan

sentak bentak merubah segalanya

saling menusuk menurut benak

 

asrama asmara runtuh sudah

kelapa kepala mendidih

menepi menyepi mendinginkan hawa

hati mati hidup lagi

tak ada kawan lawan apalagi lawan kawan

menggapai cita cinta tak terkubur abadi

sehidup semati bersama kisah kasih

 

terbang bebas bebas dalam kosmos

lepas lemas tanggal sejenak

mencari bara bola yang hilang

selesaikan problema dilema

 

SEPERTI VROUWENGEK

 

seperti vrouwengek

            bintang redup, surya memancar

            surya surut rembulan bersinar

            mengalir seperti laju air

            hidupkan hidup

 

seperti vrouwengek

            sunyi datang tak dapat bertahan

mencar i dalam rimba galaksi

meski dapatkan Xantippe

 

seperti vrouwengek

            memandang keindahan

            cipta rasa memiliki sahabat

            dan tak puas menghenyak

 

seperti vrouwengek

            ke mana pun harus ada

 

seperti vrouwengek

            aku bukan vrouwengek

 

BIRU MEMBIRU

 

kapas terbang bebas dan lepas

tanpa beban dan angan ke negeri harapan

 

aku

tidak akan selalu terpilih mengabu

angan-angan pun tertabu

semumu melenakan kalbu

membentu tajamnya batu

dan beku

 

terlalu dini jangan terlalu lama edan

bagimu nikmat bagiku sekarat

 

AIR MATA AIR

 

Gusti,

            kalau memang irama cinta ini Kau halangi

            maka kunyanyikan lantunan syukur

 

Gusti,

            kalau memang ini karma

            maka teruskan saja untuk kebahagiaan anakku

Gusti,

            kalau memang harus menerima hakMu

            maka berilah kenikmatan jodoh, rezeki, dan matiMu

Gusti,

            potong lenganku

            butakan mataku

            sumbat hidungku

            potong kemaluanku

            putihkan aku

            majdubkan aku

 

KEGELAPAN ADALAH CAHAYAKU

 

kegelapan adalah cahayaku, jangan beri aku cahaya

agar tak kian silau dan buta tiba-tiba

 

remuk sudah tubuhku karena kau memasuki rusukku

jangan kenali tulangku karena kian tabu

dan kalau aku menggenapkan tulang rusukmu

maka kamu mengganjilkan tulang rusukku

agar dapat terang tanpa aku menghalang

 

tetaplah gelap dan biarkan aku menyinari

biar mentari lelap tapi aku tetap menyinari

 

SENDIRI MENIKMATI ALAM TIADA YANG MENEMANI

MEMBEKUKAN DIRI MEMENDAM DENGKI

MENANAM KEBISUAN BAYANGAN KENYATAAN

 

harus bagaimana

tak tahu ke mana

karena kau meniada

aku sendiri ada

terpuruk

memendam dendam

menari jemari

sendiri

lara tiada tara

marah

kecewa

sendawa

tertawa

remuk

redup

reinkarnasi

 

KIBAR BENDERAKU

 

berkobarlah amarahku

lambang kotor tidak berdaya

di seluruh jiwa dan raga

kau tetap penciptanya

 

di mana kuharus menaruh bebanku

serentak tiada membela

sang lara tak terkira

berkaburlah selama-lamanya

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 Tanggapan to “Antologi Puisi”

  1. memahami puisi karya orang pintar agak susah, penafsirannya bisa lain-lain lho , saya berkata begitu karena saya punya otak pas-pasan bahkan dikatakan kurang encer juga boleh.

  2. Tetaplah disisiku

    YA RABBI…
    Dimanakah aku harus berlabuh…
    Dan berkata ini bukan untukmu…
    Segara menjauh karena disini bukan tempatmu…
    YA RABBI…
    Katakan padaku dermaga untukku berlabuh…
    Agar ku segera menghela nafas kehidupan yang baru…
    Sampai kapan ku harus arungi waktu…
    Ku telah menunggu suatu yang tak pasti walau hanya satu…
    YA RABBI…
    Beri aku penerang jalanMU…
    Agar tak tersesat saat ku melaju…
    Puaskan awak kapalku…
    Saat badai menghalangi jalanku…
    YA RABBI…
    Tetaplah disisiku…
    Jangan engkau menjauh dariku…
    Karena ku mati tanpa hadirmu…

  3. Kebahagiaan itu seperti tersirat dalam kehidupan

    Aku yang tak berguna….
    Yang tak pantas diandalkan….
    Bukan suatu yang dunia akan tangisi….
    Bukan suatu hal yang disesali….
    Bukan pula untuk dikasihani….
    Aku tak perlu kesempurnaan….
    Yang aku mau hanyalah kebahagiaan….
    Seorang yang bimbang akan hak dan perasaan….
    Ya,itu semua aku….
    Yang pantang kalah oleh emosi….
    Tapi selalu tak berkutik menghadapinya….
    Bila saja terpampang dua pilihan….
    Aku hanya bisa berdo’a….
    Jalan mana yang akan ENGKAU tunjukkan padaku….??
    Maka aku pilih jalan yang ENGKAU tunjukkan….
    Jalan dimana aku akan menorah masa depan….
    Meski terasa menyakitkan, aku akan terus yakin….
    Kebahagiaan itu seperti tersirat dalam kehidupan….
    Tersembunyi, namun sangat berarti….

  4. Dadan Andana Says:

    Kita sama mulia dan sempurna
    kelemahan adalah kelebihan kita yang tersembunyi
    tak ada papa, nista, durjana
    kita hanya hilaf berbuat baik
    ah… susah bersastra
    kebahagiaan hanyalah saat kita sujud dalam pelukan sang kekasih
    dengan penuh ampunan dan rahmat Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: