Archive for the pengajaran Category

Belajar dengan Ponsel di Sekolah

Posted in pengajaran on 16 Desember 2009 by endonesa

(dimuat di Opini Surya, 15 Desember 2009)

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) harusnya membuat pembelajaran menjadi semakin menarik dan bermutu. Kemajuan TIK memberikan berbagai fasilitas melalui produk-produk teknologi yang bermanfaat dalam kegiatan pembelajaran. Produk-produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran antara lain televisi, radio, telepon, telepon seluler (ponsel), komputer, hingga koneksi internet. Produk-produk ini harus dapat bermanfaat secara positif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Ironisnya, tingginya melek teknologi (literacy with ICT) di kalangan siswa tidak diimbangi oleh kemampuan guru. Hanya sebagian kecil, bahkan sebagian kecil sekali, guru yang melek teknologi di atas kemampuan siswa. Memang pesatnya kemajuan teknologi sesuai dengan zamannya. Namun hal ini seharusnya bukan menjadi kendala bagi guru untuk mengembangkan diri dan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pembelajaran menjadi pengajar yang handal dan paham teknologi.

Tinggi daya melek teknologi siswa dibanding guru menyebabkan banyak penyimpangan dalam penggunaan TIK. Banyak video porno yang direkam dan dilakukan oleh kalangan terpelajar melalui fasilitas ponsel. Layanan internet banyak disalahgunakan oleh siswa. Kasus-kasus ini merupakan penyimpangan penggunaan teknologi karena rendahnya keterampilan teknologi yang dimiliki guru. Akhirnya, dengan kebijakan yang tidak bijak, beberapa sekolah melarang siswanya membawa ponsel ke sekolah.

Apa yang bisa dilakukan oleh ponsel dalam kegiatan pembelajaran?

Sebelum membedah daya guna ponsel dalam kegiatan pembelajaran, penting dipahami fitur-fitur yang tersedia di dalamnya. Fitur-fitur dalam ponsel di antaranya berupa telepon, pesan pendek (Short Message Service/SMS), alarm, timer hitung mundur, stopwatch, kalkulator, pemutar musik, kamera, rekaman video, rekaman suara, infrared/bluetooth, tv, hingga internet melalui berbagai koneksi). Pertanyaannya, seberapa kreatifkah guru dalam memanfaatkan fitur-fitur ini atau malah menganggapnya fitur-fitur ini tidak berguna dalam kegiatan pembelajaran?

Fitur-fitur ponsel dapat dimasukkan dalam langkah-langkah pembelajaran sebagai wujud nyata strategi pembelajaran. Tentu saja, pemanfaatan fitur-fitur ponsel harus disesuaikan dengan kompetensi dasar apa yang hendak diajarkan. Guru harus mampu memilih fitur-fitur ponsel yang dapat digunakan pada kompetensi dasar tertentu, bukan dipaksa-paksakan, dicocok-cocokkan.

Dalam kegiatan pembelajaran, layanan telepon dapat dimanfaatkan guru dalam menunjuk kelompok. Kelompok ini dapat dibentuk sebelumnya berdasarkan kemampuan tiap individu, bukan secara acak. Kelompok ini dapat diberikan tugas oleh guru seperti untuk penunjukkan presentasi. Penujukkan kelompok dapat dilakukan secara acak melalui fitur panggilan cepat di dalam ponsel. Guru harus menyimpan nomor ponsel perwakilan beberapa kelompok. Jika tiba giliran kelompok untuk presentasi, guru cukup menekan tombol 2 hingga 9. Tunggu beberapa saat dan simak telepon siapa yang berdering. Kelompok inilah yang memperoleh giliran untuk presentasi.

Layanan pesan pendek/SMS dapat digunakan guru dalam membagi tema. Langkah ini bertujuan agar tema tiap kelompok tidak diketahui oleh kelompok lain. Caranya, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Guru mengirimkan SMS ke perwakilan kelompok berdasarkan beberapa tema sudah dipersiapkan sebelumnya.

Untuk membatasi waktu, guru dapat memanfaatkan alarm ponsel. Dalam kegiatan presentasi, diskusi, hingga ulangan harian dapat digunakan fitur alarm. Jatah waktu yang diberikan dapat diukur dengan objektif melalui alarm. Jatah waktu tiap kelompok/tiap siswa sama, bukan berdasarkan insting, melainkan berdasarkan alarm. Layanan yang mirip dengan alarm dalam ponsel adalah timer hitung mundur dan stopwatch. Layanan fitur stopwatch dapat digunakan dalam pembelajaran olah raga.

Kalkulator dapat dimanfaatkan guru dengan bijak. Ada saatnya guru memanfaatkan fitur ini dan ada saatnya tidak. Hal ini sangat bergantung pada kompetensi dasar bidang studi yang diberikan. Jika guru sedang membawakan kompetensi non-matematika dan ingin hasil cepat, tidak ada salahnya guru memanfaatkan layanan ini. Namun jika guru sedang melatih kompetensi hitung, guru harus memperhitungkan kembali pemakaian layanan hitung ini. Sekali lagi, guru harus bijak memanfaatkan layanan ini.

Dalam pembelajaran bahasa, layanan rekaman suara dapat digunakan guru dalam memberikan penguatan. Misalnya pembelajaran membaca puisi, membaca berita, membaca pengumuman, dll. Guru dapat menggunakan layanan rekaman suara dan diputar kembali untuk diberikan penguatan. Jika layanan suara belum cukup, guru dapat menggunakan layanan rekaman video. Melalui rekaman video guru dan siswa dapat menyimak sajian audio-visual. Guru dapat memberikan penguatan sikap dan ekspresi dalam pembelajaran berpidato, membaca puisi, hingga drama.

Layanan rekaman video juga dapat digunakan guru Bahasa Indonesia dalam menulis paragraf. Guru dapat juga memberikan tugas pada perwakilan kelompok, jika tidak semua siswa memiliki ponsel berfitur kamera, untuk memotret objek atau merekam keramaian stasiun kereta api. Lalu, guru memberikan tugas menulis paragraf. Begitu juga guru bidang studi lain, guru ekonomi dapat merekam keramaian pasar, guru olahraga memberikan masukan lay-up dalam olah raga basket yang benar, dll.

Sebagai koneksi transfer data, guru dan siswa dapat memanfaatkan fitur infrared dan bluetooth. Objek yang sudah terpotret dapat dibagi kepada siswa lain atau diserahkan pada guru. Guru atau siswa dapat metransfer langsung ke laptop untuk ditayangkan melalui LCD Proyektor. Objek ini dapat disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkan guru.

ponsel tertentu sudah menyediakan fasitas televisi. Guru bidang studi tertentu dapat memanfaatkan televisi sebagai bahan ajar. Misalkan berita, iklan, sinetron, dll. Pemilihan bahan ajar ini harus dilakukan guru secara selektif dan benar-benar membawa manfaat dalam pencapaian tujuan belajar.

Melalui koneksi data, ponsel kini menyediakan layanan internet. Melalui internet, guru dapat mencari bahan ajar dan jutaan referensi dalam internet. Tentu jika menginginkan layar yang lebar, ponsel dapat dikoneksikan ke laptop dan ditayangkan melalui LCD Proyektor. Jika belum puas melalui koneksi ponsel, guru dapat memanfaatkan jaringan internet via kabel dan nirkabel, misal wifi.

Praktik lebih lanjut pemanfaatkan ponsel dapat dikreasikan guru. Tentu tidak semua guru dapat memanfaatkan layanan ponsel yangdapat dipadukan dengan produk TIK lainnya. Hal ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur TIK di sekolah dan daya melek guru terhadap TIK. Yang jelas, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan produk TIK membawa dampak positif dalam kegiatan pembelajaran menuju pencapaian hasil belajar yang lebih baik.

Pertanyaannya, masihkah ponsel dilarang dibawa ke sekolah?

Iklan

PEMBELAJARAN PUISI

Posted in pengajaran on 8 September 2008 by endonesa

Pembelajaran Puisi

Dalam kegiatan belajar mengajar, strategi pembelajaran, khususnya metode pembelajaran mempunyai peranan penting. Machfudz (2000) mengutip penjelasan Edward M. Anthony (dalam H. Allen and Robert, 1972) yang menyatakan bahwa istilah metode berarti perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi pelajaran bahasa secara teratur. Istilah ini bersifat prosedural dalam arti penerapan suatu metode dalam pembelajaran bahasa dikerjakan dengan melalui langkah-langkah yang teratur dan secara bertahap, dimulai dari penyusunan perencanaan pengajaran, penyajian pengajaran, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Sayuti (1985:213) menyatakan bahwa penggunaan metode yang tepat akan banyak berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Akan tetapi harus disadari pula, bahwa faktor gurulah yang pada akhirnya banyak menentukan berhasilnya pengajaran. Oleh karena itu, guru jangan sampai terbelenggu oleh salah satu metode yang dipilihnya.

Menurut pengamatan peneliti, dalam pembelajaran puisi, sangat memungkinkan untuk menerapkan ketujuh prinsip CTL dalam KBK yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Siswa dapat mengontruksikan (contructing) sendiri pemahaman terhadap definisi dan unsur-unsur puisi berdasarkan contoh (modelling). Siswa akan menemukan (inquiry) definisi dan unsur-unsur puisi atas panduan guru. Siswa juga dapat mendiskusikannya hasil temuannya dengan teman sejawat (learning community). Guru dapat mengadakan tanya jawab (questioning) dari temuan-temuan yang sudah didiskusikan sebelumnya. Untuk praktik membacakan puisi, guru dapat memakai contoh (modelling), baik dirinya sendiri (jika merasa sudah berkompeten) atau melalui pratikkan dari media-media pembelajaran membacakan puisi, seperti yang akan dibuat oleh peneliti. Proses pembelajaran dapat direfleksikan (reflection) secara bersama, antara guru dan murid untuk menemukan bentuk pembelajaran yang lebih cocok. Sedangkan evaluasi hasil, dapat dilakukan melalui penilaian sejawat (peer assesment) maupun penilaian guru secara langsung (authentic assesment).

Lebih lanjut, Sayuti (1985:213) menjelaskan bahwa secara garis besar, metode pembelajaran dapat dibedakan berdasarkan bahan (materi) pengajaran dan interaksi belajar mengajar. Metode pengajaran yang berhubungan dengan bahasa pengajaran dalam pengajaran puisi banyak berkaitan dengan metode analisis puisi, antara lain

(1)   metode dikotomi, yaitu sebuah metode yang  mendasarkan diri pada pendapat yang menyatakan bahwa puisi itu terdiri dari segi bentuk dan segi isi. Pembagian ini memang sudah sangat umum dan sangat tua usianya, dan sampai kini masih banyak diikuti orang,

(2)   metode fenomenologi, yaitu sebuah metode ini mendasarkan diri pada pandangan fenomenologis Edmond Husserl yang memandang bahwa suatu karya itu tidak hanya sebagai suatu sistem norma, melainkan juga sebagai suatu susunan lapis norma. Untuk membedakan penilaian terhadap suatu karya. Karya itu, harus dianalisis berdasarkan lapis-lapis norma yang terdapat di dalamnya. Susunan norma itu menjadi tiga lapis, yaitu (1) lapis bunyi, (2) lapis arti, dan (3) lapis objek. Kemudian Ingarden menambahkan dua lapis lagi, yang hanya hakikatnya lapis-lapis itu tidak dapat dipisahkan, yakni (4) lapis sudut pandangan tertentu tentang dunia, dan (5) lapis nilai metafisik.

(3)   metode linguistik, yaitu sebuah metode yang menggunakan teori teks menerangkan bagaimana terjadinya himpunan-himpunan kalimat yang pada kahirnya dapat diberi predikat literer, estetis, atau puitis. Menurut Hulshof (dalam Noer Toegiman, 1979), terdapat seperangkat istilah yang diperlukan dalam teori teks. Istilah-istilah itu bukan merupakan istilah asing lagi bagi mereka yang telah mengenal lingustik dan sastra, yaitu struktur luar (surface structure), struktur dalam (deep structure), transformasi (transformation), parafrase (paraphrase), dan interpretasi (interpretation). Struktur luar adalah susuan kalimat atau himpunan kalimat sutau teks atau bagian teks yang akan dibaca atau didengar. Pendek kata, struktur luar sama dengan struktur yang tersurat sebagaimana yang tersaji dalam kondisi siap-pakai, siap-baca. Sedangkan struktur dalam dapat disebut sebagai struktur tersirat. Struktur dalam belum mengalami proses lebih lanjut dalam perumusannya. Untuk mudahnya, dapat dikatakan bahwa struktur dalam berhubungan dengan isi. Sebagai sebuah istilah, transformasi dalam teori teks ialah perubahan struktur dalam menjadi struktur luar. Jadi, dari bentuk tersirat menjadi bentuk tersurat. Melalui transformasi, struktur dalam menjelma menjadi struktur luar. Tahap transformasi ini menjadi bagian utama dalam teori teks. Dalam teori teks, parafrase dipergunakan untuk mengembalikan struktur dalam, mengembalikan struktur “bergaya” menjadi struktur yang sederhan. Parafrase membuka jalan untuk mengetahui deviasi dan foregrounding  yang terdapat pada struktur luar. Apa yang tersirat dalam struktur luar tidak senantiasa dapat diterangkan melalui parafrase saja. Penjelasan lebih lanjut masih diperlukan mengenai konteks dan situasi serta kondisinya, yakni hal-hal yang ada sangkut-pautnya dengan struktur luar dan struktur dalam tersebut. Oleh karena itu, interpretasi diperlukan. Hal ini disebabkan bahwa interpretasi merupakan penjelasan struktur dalam berdasarkan atau memperhatikan konteksnya.

DESAIN PEMBELAJARAN MEMBACAKAN PUISI

Posted in pengajaran on 8 September 2008 by endonesa

Mata Pelajaran           : Bahasa Indonesia

Jenjang                        : SMA/MA

Kelas                             : X

Unit                                : 2

Waktu                           : 4 x 90 menit

 

A]       Aspek

Apresiasi Sastra

 

B]       Subaspek

Membaca

 

C]       Standar Kompetensi

Mampu membaca dan memahami berbagai teks bacaan sastra melalui membacakan puisi, membaca serta mendiskusikan isi naskah sastra melayu klasik, dan menganalisis cerpen.

 

D]       Kompetensi Dasar

Membacakan puisi.

 

E]       Indikator

æ  Membacakan puisi dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.

 

F]       Materi Pokok

Puisi

 

G]      Skenario Pembelajaran

No

Kegiatan

Waktu

Metode

1

Pendahuluan

1]       Guru membuka kegiatan belajar-mengajar (KBM) dengan salam dan mempresensi siswa

2]       Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dipelajari

3]       Siswa diajak mencatat hal-hal yang penting dalam membaca puisi dari media pembelajaran

4]       Siswa diajak berdiskusi tentang puisi dan bagaimana membacakan puisi yang baik

5]       Siswa diminta mencari puisi yang disukai dan harus berbeda dengan siswa yang lain dengan tema bebas

6]       Siswa diajak guru mengungkapkan kebermanfaatan dalam membaca puisi yang baik

90”

 

 

 

 

 

Modelling

 

Questioning

Inquiry

2

Inti

1]       Siswa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok lafal, tekanan, dan intonasi

2]       Semua kelompok diminta melakukan berlatih bersama dengan tahapan:

a.       membaca berulang-ulang

b.       memberi jeda

c.        memahami makna

d.       menghayati isi

e.       mengetahui alur puisi

f.         melatih performansi:

                           i.      olah vokal

                          ii.      olah rasa

                        iii.      olah gerak

g.       melakukan performansi

3]       Setiap anggota kelompok diminta untuk tampil

4]       Tiap anggota kelompok memberikan penilaian dan masukan terhadap tampilan dari anggota kelompoknya

5]       Setelah semua anggota tampil di depan kelompoknya masing-masing, secara bergiliran semua siswa tampil di depan kelas

6]       Guru mengukuhkan semua tampilan beserta penilaiannya. Pengukuhan diberikan terkait dengan membacakan puisi yang baik dengan memperhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi.

 

225”

 

Learning Community

Inquiry

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konstruktivisme

Peer Assesment

Authentic Assesment

 

 

Questioning

 

3

Penutup

1]       Guru merefleksi tentang apa yang telah dilakukan, dipahami, dan diinginkan siswa terkait dengan pembelajaran yang dilaksanakan.

 

15”

 

Reflexy

 

H]       Media dan Sumber Belajar

a]        Video Pembelajaran Membaca Puisi

b]        VCD Player

c]         Contoh Puisi

d]        Properti sesuai dengan kebutuhan

 

I]          Penilaian

Penilaian Proses: Guru mengamati siswa ketika proses pembelajaran berlangsung

Nama Siswa

Kesediaan mengerjakan tugas

Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan

Kemauan bekerja sama

Thayomi Dian Roosti

 

 

 

Pramudya Agus Arga N.

 

 

 

Ayu Amanda

 

 

 

 

Tes Kinerja: Guru menilai keaktifan siswa dalam proses pembelajaran

No

Kinerja Penilaian Skor

Skor

Bobot

Nilai

(skorxbobot)

1

Kesediaan mengerjakan tugas (Apakah dalam pembelajaran siswa aktif mengerjakan tugas?)

a]         aktif

b]         cukup aktif

c]         kurang aktif

 

 

10

7

4

 

 

4

 

 

40

28

16

2

Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif mengajukan pertanyaan/tanggapan?)

a]         aktif

b]         cukup aktif

c]         kurang aktif

 

 

 

10

7

4

 

 

 

3

 

 

 

30

28

12

3

Kemauan bekerja sama (Apakah dalam proses pembelajaran siswa aktif bekerja sama?)

a]         aktif

b]         cukup aktif

c]         kurang aktif

 

 

10

7

4

 

 

3

 

 

30

21

12

 

Tabel Penilaian

Aspek yang dinilai

Nilai

Baik

Cukup

Kurang

Kesediaan mengerjakan tugas

40

28

16

Keaktifan dalam mengajukan pertanyaan/tanggapan?

30

28

12

Kemauan bekerja sama

30

21

12

Total

100

70

40

 

Tes tertulis: Kemampuan siswa dalam menulis puisi bebas (dilakukan guru dan siswa)

No

Kriteria

Skor

Bobot

Nilai

(skorxbobot)

1

Pemilihan dan interpretasi puisi (Apakah puisi yang dipilih dapat dipahami dan ditafsirkan dengan baik atau tidak?)

a]         baik

b]         cukup

c]         kurang

 

10

7

4

2

20/14/8

2

Teknis Pembacaan (Apakah dalam membacakan puisi sudah memiliki kualitas vokal (intonasi, tekanan, nada, dan irama), penghayatan, ekspresi, dan kesesuaian gerak yang baik atau tidak?)

a]        baik

b]        cukup

c]         kurang

 

10

7

4

6

60/42/24

3

Totalitas Performansi (Apakah dalam membacakan puisi memiliki gaya penampilan yang khas, menggunakan unsur pendukung (kostum, penampilan, musik, dll.), kemenarikan sebagai pertunjukkan, dan kualitas komunikasi yang baik atau tidak?)

a]        baik

b]        cukup

c]         kurang

 

 

10

7

4

2

20/14/8

 

Tabel Penilaian

Aspek yang dinilai

Nilai

Baik

Cukup

Kurang

Pemilihan dan interpretasi puisi

20

14

8

Teknis Pembacaan

60

42

24

Totalitas Performansi

20

14

8

Total

100

70

40

 

DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

BERBASIS CTL

MEMBACAKAN PUISI

Pengembangan Media Interaktif Berbasis Kompetensi untuk Pembelajaran Membacakan Puisi

Posted in pengajaran on 17 Januari 2008 by endonesa

(ABSTRAK) Pembelajaran membaca puisi merupakan salah satu tuntutan kurikulum 2006 berbasis kompetensi. Kurikulum ini menuntut ketuntasan belajar dengan kriteria ideal. Siswa dinyatakan lulus apabila mencapai kompetensi dasar (1) 90% atau lebih, dan (2) 75% – 89%. Kategori pertama diberi program percepatan, kategori kedua diberi program pengayaan dan tidak diuji lagi. Siswa di bawah 75% diberi program remedial kemudian diuji. Bila tidak lulus, diberi remedial lagi, lalu diuji lagi. Setelah dua kali mengikuti remedial ternyata tidak lulus, berarti dia tidak punya potensi atau bakat dalam mata pelajaran tersebut, tetapi setidak-tidaknya siswa telah mencapai 60% penguasaan kompetensi dasar. Untuk mencapai tuntutan di atas diperlukan sumber daya pendukung. Salah satunya adalah media pembelajaran yang dapat digunakan guru dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa CD-Multimedia Interaktif Membaca Puisi.

Pengembangan media interaktif ini ditempuh melalui tiga tahap prosedur pengembangan, yaitu (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, dan (3) tahap pasca pengembangan. Sumber data kegiatan pengembangan ini adalah 5 orang guru dan siswa sebanyak 50 orang. Validasi kegiatan pengembangan ini melibatkan 3 orang ahli sebagai validasi materi dan 2 orang ahli praktisi sebagai validasi media. Jenis produk yang dihasilkan adalah e-Learning offline dengan model Browser Based Training berupa autorun CD-Multimedia Interaktif dalam format presentasi. Kegiatan pengembangan ini akan menghasilkan produk berupa media interaktif pembelajaran membacakan puisi, meliputi (1) CD-Multimedia Interaktif, dan (2) suplemen produk berupa profil media, prosedur pemanfaatan media, pemeliharaan, dan rangkuman materi.

Respon terhadap pengembangan CD-Multimedia Interaktif membacakan puisi memperoleh hasil 24,00% responden sangat setuju, 70% setuju, dan 6 % tidak setuju. Manfaat pengembangan CD-Multimedia Interaktif juga direspon baik dengan 14,00% menyatakan sangat perlu, 70% menyatakan perlu, dan 2,00% menyatakan tidak perlu.

Berdasarkan simpulan penelitian ini, disarankan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif perbaikan pengembangan media pembelajaran sesuai dengan fasilitas yang disediakan sekolah. Namun secara khusus, saran dalam penelitian ini ditujukan kepada guru agar senantiasa kreatif dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan memanfaatkan media pembelajaran CD-Multimedia Interaktif.

Pengembangan penelitian selanjutnya diharapkan menitikberatkan pada (1) ujicoba dalam kegiatan belajar mengajar, dan (2) pengembangan media pembelajaran berbasis Macromedia Dreamweaver/Autoplay Media Studio Profesional yang memiliki fitur yang lebih komplet. Hal ini disebabkan bahan pembelajaran ini disusun dengan keterbatasan fitur yang disediakan oleh software pengembang, yaitu Microsoft Power Point 2003. Namun memberi nilai plus terhadap pengembangannya karena program ini menjadi open source bagi guru bahasa Indonesia.

Diproteksi: Teknik Pembelajaran Membacakan Puisi terhadap Siswa yang Remidi

Posted in pengajaran on 17 Januari 2008 by endonesa

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: